Jumat, 13 Agustus 2010

Parahnya pesan tiket kereta di Bandung

Hari Jumat, tanggal 2 Juli 2010 saya ke Bandung untuk sebuah keperluan kantor dari Jakarta via kereta. Sesampainya di Bandung saya berencana langsung mencari tiket untuk pulang ke Surabaya hari Sabtu pagi. Tapi ternyata tidak ada tiket sampai hari Minggu tanggal 4 Juli 2010.

Saya sudah panik karena hari Minggu saya harus sudah ke Banyuwangi karena ada kepentingan kantor juga di Banyuwangi. Waktu panik itu datang dua orang cowok anak kuliahan dan menawarkan tiket ke saya, calo lah. Mereka memastikan ada tiket untuk besok pagi dengan harga 100 rb lebih mahal dari tiket asli. Katanya yang 25rb buat dia sedangkan 75rb buat pegawai stasiun yang dimintain tiket.

Pendek kata, akhirnya karena butuh, saya beli tiket itu dan berhasil pulang ke Surabaya via kereta hari Sabtu pagi.

Hal yang membuat saya heran adalah :
1) selama perjalanan dari Bandung sampai Surabaya, minimal ada 8 kursi kosong di gerbong yang saya tempati yang TIDAK PERNAH terisi penumpang sampai di Surabaya. Artinya, kereta dalam keadaan 'ada kursi kosong'. Tapi, kenapa di kaca pembelian tiket di Bandung dituliskan besar-besar bahwa tiket kereta tanggal 2-4 tujuan Surabaya HABIS. Ok lah misalnya penumpangnya ketinggalan kereta, tapi kan ya nggak mungkin 8 orang 'begitu bodohnya' ketinggalan bareng2.

2) setahu saya, di Surabaya pemesanan tiket tidak pernah menjual semua tiket sebelum hari H. Selalu ada minimal 1 gerbong yang dijual mulai 2 jam sebelum kereta berangkat. Tapi di Bandung hal itu tidak berlaku. Paling tidak demikian menurut petugas loket karcis yang saya tanyain mengenai kebiasaan di Surabaya itu. Artinya kalau sudah dibilang habis ya habis, sampai jam berangkat tetap habis, tidak ada tiket tambahan 2 jam sebelum kereta berangkat. Logika saya, bagaimana kalau ada orang yang perlu tiket dan baru datang 1 jam sebelum kereta berangkat? Bisa tidak terangkut dong? Kasihan sekali dia tidak mendapat kesempatan mencari tiket.

3) Pada waktu saya sibuk hunting tiket dan informasi tiket yang mungkin masih bisa dibeli, saya menemukan calo-calo yang bertebaran mulai dari di teras depan stasiun, pintu masuk, bahkan sampai di ruang eksekutif khusus pemesanan tiket lanjutan. Hebatnya, mereka itu duduk dengan santainya disebelah petugas tiket yang asli dan mengambil alih permintaan tiket setelah petugas asli bilang tiketnya habis. Ada main antara petugas di dalam dan para calo itu?

Dalam hati saya berpikir, ternyata wajah pelayanan masyarakat kita di Bandung masih sangat muram dan dikotori oleh oknum-oknum yang mau mengeruk keuntungan dari kesulitan/kebutuhan orang lain. Dan sayangnya, petugas yang mustinya mampu melakukan kontrol atas ini semua kayaknya cuek dan mungkin ikut bermain dalam gelimang dosa ini.

Menyedihkan sekali....

Tidak ada komentar:

Posting Komentar